Tata Cara Shalat – Takbiratul Ihram dalam shalat

Ketika Rasulullah saw. akan memulai shalat, beliau bertakbir, setelah berniat terlebih dahulu.

Sayyidina Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan, “Apabila Rasulullah saw. berdiri untuk(melakukan) shalat, beliau mengangkat  kedua tangannya sampai berhadapan dengan kedua bahunya, lalu takbir. (H.R. Imam Muslim, I:357).

Dengan demikian takbir adalah pembuka shalat disebut tahrim, karena dengan takbir setiap orang haram untuk berbicara, makan, minum dan lain-lain yang bukan pekerjaan shalat.

Disunatkan mengangkta kedua tangan dalam shalat pada empat tempat

Diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali ra., ” Jika Rasulullah saw.  berdiri untuk melakukan shalat fardu , beliau bertakbir terlebih dahulu dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya. Beliaupun melakukan hal seperti itu setelah selesai membaca surah dan ketika akan melakukan rukuk. Beliau juga melakukannya ketika bangkit dari rukuk. Beliau tidak mengangkat kedua tangannya dalam bagian manapun dari shalatnya ketika beliau duduk. Demikian pula jika bangkit dari dua sujud.

Berdasarkan hadis diatas , disimpulkan bahwa mengangkat kedua tangan itu disunatkan pada empat tempat yaitu ketika takbiratul-ihram, ketika akan rukuk, ketika bangun dari rukuk, dan ketika bangun dari tasyahud awal bagi yang melakukan shalat sambil berdiri.

Jari tangan dalam shalat mempunyai banyak keadaan

pertama, ketika diangkat dalam takbiratul ihram, ketika rukuk dan bangkit darinya, dan ketika bangkit dari tasyahud awal, dalam keadaan itu jari-jemari tangan dibuka dan direnggangkan antara yang satu dengan yang lain, tentunya tanpa berlebihan dan tidak boleh dirapatkan.

kedua, ketika sedang rukuk jari-jemari tersebut disunatkan untuk direnggangkan.

ketiga, ketika sedang sujud jari-jemari tersebut disunatkan untuk dirapatkan dan dihadapkan ke kiblat.

keempat, ketika duduk antara dua sujud, jari-jemari disunatkan unuk dirapatkan  dan diletakan diatas kedua paha.

kelima, ketika ber tasyahud , tangan kanan diletakan diatas paha kanan sambil dirapatkan jari-jemarinya kecuali telunjuk dan ibu jari. Telunjuk ditunjukkan tetapi tidak digerak-gerakan, sementara tangan kiri diletakan dipaha kiri dengan dirapatkan jari-jemarinya sambil dihadapkan ke kiblat, dan semua ini akan diterangkan berdasarkan dalilnya pada bab khusus Insya Allah.

Disunatkan meletakan tangan kanan diatas tangan kiri

Diriwayatkan dari Wa’il bin Hajar, ” Aku melihat ketika Rasulullah saw. telah memulai shalat, tangan kanannya memegang tangan kirinya.” (H.R. Ibnu al-Mundzir dalam al-Awsath (III:90) dengan sanad yang sahih; Ibn Khuzaimah dalam sahih-nya (I:242), diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (I:193).

Maka yang disunatkan adalah meletakan tangan kanan diatas punggung telapak tangan kiri. Yakni, telapak tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri yang disebut al-ku’u (tulang pergelangan tangan) adalah tulang yang terletak dekat dengan pergelangan tangan dan tempat bertemunya tulang hasta dengan telapak tangan.

Al-Baihaqi (II:28) dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Wa’il bin hajar, bahwa ia mengatakan, ” Sungguh aku melihat dan memperhatikan bagaimana Rasululash saw. melakukan shalat. Aku melihatnya beliau berdiri, bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, sehingga kedua tangannya itu sejajar dengan telinganya, lalu beliau saw. meletakan tangan kanannya diatas punggung telapak tangan kiri, diatas pergelangan (ar-rusqu) dan diatas hasta (sa’id).

Dengan demikian orang yang melakukan shalat, disunatkan meletakan telapak tangan kanannya diatas pergelangan tangan kirinya. Sedang orang yang berpendapat bahwa bahwa alku’u adalah mirfiq (siku), lalu memegangnya dengan telapak tangan kanannya, maka pendapat itu salah.

Hal lain yang disunatkan adalah meletakan kedua tangan itu sedikit diatas pusat (pusar), bukan pada pusatnya. Seseorang tidak boleh mengangkat kedua tangannya lalu diletakan pada kedua dadanya atau dekat lehernya. Meletakan tangan itu bukan diatas susu, tetapi dibagian atara pusat (pusar) dan susu.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan, “Ibn Khuzaimah meriwayatkan hadis Wa’il bahwa nabi Muhammad saw. meletakan kedua tangannya pada dadanya (‘ala shadrihi), sedangkan menurut riwayat al-Bazzar didekat dadanya (‘inda shadrihi) (al-Fath al-Bari (II:224).

Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa kedua tangan Rasulullah saw. atau siapapun yang melaksanakan shalat, diletakan diatas pusat (fawqa as-surrah), bukan dibawahnya, bukan pada kedua susu dan bukan pada leher. Hanya Allah yang memberikan taufik kepada kita semua.

Berdasarkan hadis sahih yang telah disebutkan, maka seseorang disunatkan meletkan kedua tangan ketika mendirikan shalat adalah diatas pusat (pusar) dan dibawah susu, dan bukan melepaskan kedua tangan tersebut kebawah.

Hal Penting :

  • Ucapan takbir Allahu Akbar harus diucapkan dalam bahasa Arab. Hal itu didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw. dalam hadis sahih, ” Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihat aku melakukannya.”
  • Seorang makmum wajib memulai takbiratul-ihram setelah imam melakukannya dengan sempurna. Jika ia mengucapkan takbiratul -ihram bersamaan dengan imam, atau menyertai imam pada sebagian bacaan takbiratul-ihram , atau mengucapkannya sebelum imam selesai mengucapkan takbiratul-ihram, maka shalatnya tidak sah atau tidak jadi. Hukum tersebut berlaku untuk takbiratul-ihram saja, dan tidak mencakup semua rukun shalat. Dengan kata lain, makmum boleh saja melakukan suatu rukun shalat bersamaan dengan imam. Tetapi, bagaimanapun makmum tidak boleh mendahului imam dengan sengaja.
  • Hadis sahih, “Jika shalat telah didirikan, janganlah kalian menyusulnya sambil berlari, tetapi susulah sambil berjalan. Apa yang engkau dapatkan, maka lakukanlah shalat itu, dan apa yang tertinggal darinya, maka sempurnakanlah”. (H.R. Al-Bukhari, II:390), (H.R. Imam Muslim, I:420).
  • Ia wajib berhenti sejenak untuk mengkonsentrasikan pikirannyadisertai niat, lalu takbiratul-ihram sambil berdiri. Setelah itu baru ia melalukan rukun yang sedang dilakukan oleh imam. Jika ia bisa rukuk bersama dengan imam dengan thuma’ninah, maka baginya dihitung satu rakaat. Tetapi jika imam telah i’tidal (bangun dari rukuknya) dan keluar dari batas rukuk, sehingga makmum tidak sempat rukuk dengan thuma’ninah, maka ia tidak mendapatkan rakaat tersebut.

disini ada permasalahan yang agak pelik, apakah makmum mendapatkan satu rakaat jika ia sempat mengikuti rukuk beserta imam, ataukah ia harus membaca al-Fatihah pada rakaat tersebut sehingga ia dihitung mendapatkan satu rakaat tersebut ?

Menurut mahzab empat imam r.a., seseorang makmum mendapatkan satu rakaat jika ia sempat mengikuti rukuk imam. Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Sayyidina Abu Bakhrah r.a. pernah mengikuti shalat Nabi saw. Ketika beliau saw. sedang rukuk. Ia melakukan rukuk sebelum sampai ke saf. Lalu hal itu diceritakan kepada Nabi Muhammad saw. dan beliau saw. bersabda , “ semoga Allah menambah semangat ibadahmu, tetapi hal itu jangan kau ulangi” (H.R. Al-Bukhari, II:267 dalam al-Fath, dan perawi lainnya).

Menurut saya, para ulama telah sepakat bahwa, rakaat dapat dicapai jika makmum sempat mengikuti rukuk bersama imam. Demikian dinyatakan Ibm Al-Mundzir dalam al-Awsath(III:115). Ia mengatakan, “Setiap orang yang mendapatkan imam sedang rukuk, lalu ia rukuk bersamanya, maka ia mendapatkan rakaat tersebut dan dianggap telah membaca al-Fatihah.”

Disebutkan dalam sebuah hadis sahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda , “Jika kalian datang untuk melakukan shalat sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka sujudlah, tetapi jangan dihitung apa-apa. Barang siapa yang mendapatkan kesempatan rukuk, maka ia mendapatkan rakaat itu.” (H.R. Abu Dawud [I:236]; Al-Hakim[I:274] dan ia mensahihkannya. Kesahihan hadis tersebut juga diakui oleh adz-Dzahabi). Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan-nya (II:90) bahwa Sayyidina Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan, “Siapa yang tidak mendapatkan rukuk bersama-sama imam, maka ia tidak mendapatkan rakaat.” Hadis inipun sahih.

2 Responses to Tata Cara Shalat – Takbiratul Ihram dalam shalat

  1. vella felia mengatakan:

    minta bacaan takbiratul ihram tpi dlm bahasa arab ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: